Tangisan pulau 1001 masjid

Berguncang-berguncang Kerasnya getaran itu Membuat mereka berlarian Atap yang satu sudah berkeping Yang tersisa hanya traumatik di dalamnya Dahulu menjadi pesona bumi pertiwi Dengan hamparan gili indah Sekarang menjadi luka Yang ada hanya rasa takut Bahkan duka dan kesedihan Bergejolak bertumpuk dibalik selimut ketakutan Tuhan punya rencana akan semua ini Ini bukanlah salah siapa Ini... Continue Reading →

200 Tahun ?

    Kagum adalah kata yang cocok untuk "Mak Idah". Ditinggal abah beberapa tahun lalu, tinggal seorang diri. Berharap orang-orang mampir ke warung yang ditinggalinya. Mencari kayu bakar dan sesekali beliau turun gunung untuk belanja kebutuhan warung ke Pasar Lembang. Jayagiri selalu jadi tempat pelarian yang pas diakhir pekan. Singkat cerita saya pertama kali bertemu... Continue Reading →

Trotoar

Mocca, Keane dan Muse, mungkin itu sebagian lagu yang mewakili kami untuk melupakan sejenak keramaian kota Bandung diakhir pekan. Kopi, susu dan teh jadi tujuan utama kami. Akhir-akhir ini Bandung sangat dingin, 15 derajat celcius. Rasanya kurang pas kalau nongkrong tanpa secangkir kopi atau teh hangat ditangan. Bandung punya cara sendiri untuk mendatangkan pelancong dari... Continue Reading →

Beragam dan Bermain

Kisah ini dimulai sekitar 8 tahun lalu. Sepakbola dan upacara adalah hal yang sangat berbeda, namun sama diwaktu SMA. Rahasianya ada diketahanan kaki. Keduanya membentuk jati diri seorang pengelana. Membara pada usia muda, namun tak beretika, itulah anak muda. Pada masa itu berkelana bukanlah hal yang familiar ditelinga kawan-kawan. Mungkin hanya sebagian kecil dari kalian... Continue Reading →

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started